SINGAPURA – Namanya mungkin asing bagi generasi muda. Namun pada awal abad ke-20, Oei Tiong Ham adalah nama yang menggetarkan dunia bisnis Asia Tenggara.
Lahir di Semarang, ia tak hanya mencetak sejarah sebagai konglomerat Tionghoa paling sukses di Hindia Belanda.
Tetapi juga sebagai taipan yang menguasai seperempat tanah di Singapura. Pengaruh Oei tak hanya menjangkau tanah dan properti.
Ia mendirikan Oei Tiong Ham Concern (OTHC), sebuah kerajaan bisnis yang menjulang dari industri gula, pelayaran, perbankan, hingga ke perdagangan global.
Oei menjelma dari pewaris perusahaan kecil bernama Kian Gwan menjadi simbol kekuatan ekonomi non-pribumi yang merajalela di bawah bayang kolonialisme.
Sejarawan Onghokham mencatat dalam Konglomerat Oei Tiong Ham (1992) bahwa ekspor gula OTHC pada 1911–1912 mencapai 200 ribu ton per tahun.
Mengalahkan perusahaan-perusahaan raksasa asal Barat. Kala itu, Oei menguasai hingga 60% pasar gula di Hindia Belanda.
Kerajaan Gula dari Semarang: Bagaimana OTHC Menjadi Raksasa Bisnis Asia
Awalnya, Kian Gwan hanyalah perusahaan perdagangan biasa yang dirintis oleh ayah Oei, Oei Tjie Sien.
Baca Juga:
CMEF 2026 Resmi Ditutup di Shanghai, Tampilkan Inovasi Medis Global dan Tren Industri Masa Depan
Terbitkan Laporan ESG 2025, Hikvision Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat “Tech for Good”
Namun saat diwariskan ke tangan sang anak, arah bisnis berubah drastis. Oei Tiong Ham mengembangkan jaringan bisnis gula dengan membangun pabrik dan perkebunan tebu di Jawa.
OTHC kemudian menjelma menjadi konglomerasi lintas sektor: pergudangan, pelayaran, hingga perbankan.
Dari Hindia Belanda, jangkauan bisnis Oei merambat ke India, Singapura, hingga London.
Ia juga menjadi pemain besar dalam sistem ekspor-impor kolonial, memonopoli perdagangan gula dalam skala global.
Baca Juga:
For the Reasons that Matter: Kampanye Multi-Negara yang Menyoroti Kesehatan Pernapasan Dewasa
Dorong Revolusi Pangan Global, Teknologi “Food Processing” Jepang Tampil di Panggung Dunia
Menurut catatan sejarah dalam Oei Tiong Ham: Raja Gula dari Semarang (Liem Tjwan Ling, 1979), kekayaan Oei mencapai 200 juta gulden pada masa itu.
Jika dikonversikan, nilainya setara dengan Rp 43,4 triliun berdasarkan harga beras masa kini. Namun kejayaan itu juga memancing ketegangan dengan otoritas Hindia Belanda.
Pajak Kolonial, Pelarian ke Singapura, dan Kekuasaan atas Tanah
Pemerintah kolonial mencurigai kekayaan Oei yang menggunung. Tanpa dasar hukum yang jelas, ia ditagih pajak ganda dan dikenai denda hingga 35 juta gulden untuk menambal kerugian pasca perang.
Merasa terancam, Oei hengkang dari Semarang dan memilih Singapura sebagai tempat berlindung.
Pilihan Oei bukan tanpa alasan. Saat itu, Singapura mulai berkembang menjadi pusat dagang internasional.
Oei memanfaatkan kesempatan itu dengan membeli tanah dalam jumlah masif — dalam berbagai sumber disebut luasnya mencapai seperempat dari total wilayah Singapura kala itu.
Baca Juga:
Riset LPEM FEB UI: Pindar AdaKami Jadi Bantalan Saat Masyarakat Hadapi Tekanan Ekonomi
Dari Budaya Etnik Li hingga Asian Beach Games: Sanya Tampilkan Identitas Budaya Sambut Tamu Asia
Dahua Technology Luncurkan Laporan ESG 2025: Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat Inovasi Digital
Kepemilikan ini membuatnya dijuluki sebagai “penguasa bayangan” negeri tersebut.
Mengutip arsip National Library Board Singapura, Oei juga membeli perusahaan pelayaran Heap Eng Moh Steamship Company Limited.
Serta menjadi pemegang saham awal Overseas Chinese Bank (OCB), yang kini dikenal sebagai OCBC, salah satu bank terbesar di Asia Tenggara.
Filantropi, Nama Abadi, dan Warisan di Negeri Tetangga
Tak hanya menguasai aset, Oei juga meninggalkan jejak sosial yang kuat.
Ia tercatat menyumbangkan US$150 ribu untuk pendirian gedung Raffles College, cikal bakal National University of Singapore (NUS).
Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, mendanai sekolah, dan rumah sakit.
“Dia bukan sekadar saudagar, tapi negarawan ekonomi,” tulis Liem Tjwan Ling. Tak heran, pemerintah kolonial Inggris di Singapura menghormatinya.
Beberapa gedung dan jalan di Singapura hingga kini masih menggunakan nama Oei sebagai penanda warisan sejarah.
Oei Tiong Ham wafat pada 1924 di usia 60 tahun. Namun kerajaannya tetap berdiri selama beberapa dekade, sebelum akhirnya diambil alih dan dinasionalisasi setelah kemerdekaan Indonesia.
Meski namanya nyaris hilang dari buku sejarah nasional, jejak Oei tetap hidup di Semarang dan Singapura.
Mengapa Kita Perlu Mengenang Oei Tiong Ham?
Kisah Oei Tiong Ham membuka kembali perbincangan penting tentang peran diaspora Tionghoa dalam ekonomi kolonial dan nasional.
Ia adalah contoh bagaimana seorang pengusaha bisa menggunakan krisis sebagai peluang dan membangun kekayaan lintas batas melalui strategi dan inovasi.
Namun, nasibnya juga mencerminkan ketegangan antara pengusaha non-pribumi dan negara kolonial, yang masih relevan dalam diskursus sosial-politik hari ini.
Soal pajak, diaspora, dan redistribusi kekayaan masih jadi topik sensitif di Indonesia.
Melalui kisah Oei, kita belajar bahwa sejarah bisnis bukan sekadar soal untung rugi, melainkan juga cerminan relasi kekuasaan, etnisitas, dan negara.
Kini, dengan semakin terbukanya akses terhadap informasi sejarah, mungkin sudah waktunya nama Oei Tiong Ham kembali masuk dalam pelajaran ekonomi, sejarah, dan kewirausahaan di sekolah-sekolah kita.***
Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com
Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.
Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.
Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.
Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.
Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Hutannews.com dan Mediaemiten.com
Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media On24jam.com dan Kilasnews.com
Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Haijateng.com dan Hariancirebon.com
Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center
















